” MEmPertanYakan Kembali Peran Koperasi Dalam Perekonomian IndonesiA”
Mempertanyakan Kembali Peran Koperasi dalam Perekonomian Indonesia
*oleh Arif Saifudin Yudistira
Keadaan ekonomi Indonesia sampai saat ini memang masih carut-marut dan belum banyak berubah. Di tengah bahaya dan cengkeraman kapitalisme modal, kita dihadapkan pula dengan adanya globalisasi yang menuntut kita menghadapi pilihan yang memberatkan.
Meskipun keadaan ekonomi kita saat ini masih carut-marut dan tidak stabil, namun semangat dari rakyat Indonesia tidak kenal menyerah. Namun, di saat semangat para pengusaha kecil di kalangan bawah, lagi-lagi mereka terbentur dengan permasalahan modal. Kita bisa cukup lega karena baru-baru ini pemerintah dari kementerian koperasi mengucurkan dana kredit Usaha Rakyat (KUR) yang cukup bisa membantu masyarakat.
Kegigihan pengusaha kecil dalam menjalankan kualitas usahanya sudah tidak diragukan lagi. Semangat bangkit dari keterpurukan,semangat berkemajuan,dan menghadapi tempaan rakyat kita luar biasa dan patut kita beri acungan jempol.
Hal ini juga terbukti ketika tahun-tahun lalu pemerintah merasa menyesal ketika memberikan kredit kepada pengusaha-pengusaha besar yang akhirnya berujung pada kredit macet. Kegigihan pengusaha kecil juga dapat dilihat dengan semakin berkembangnya waeung “HIK” yang sudah cukup popular dan menggembirakan di wilayah Solo,Klaten,dan sekitarnya.
Di saat yang bersamaan pula, ada beberapa koperasi mengalami kebangkrutan karena dampak kenaikan BBM. Pemerintah selama ini pun kurang memperhatikan mengenai pemberdayaan koperasi dan usaha kecil serta menengah. Kita bisa melihat ini dari kesan yang ditimbulkan karena pemerintah baru mampu memberikan bantuan modal saja, sedang disisi pemberdayaan dan pembinaan masih kurang.
Liberalisasi ekonomi yang diusung pemilik modal skala global dan rakus kian meneguhkan korporatokrasi(perkins,2003), hal ini juga berakibat bahwa pemerintah akan lebih mempercayai menajemen internasional,serta kepercayaan terhadap adanya privatisasi. Hal ini amat berbeda ketika kita lebih mengoptimalkan koperasi.
Seperti pada kasus minyak saat ini, ketika kita menggunakan prinsip ekonomi koperasi, kita tentu akan menggunakan minyak tersebut untuk kepentingan dalam negeri dulu, sebelum diekspor. Hal ini sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Bung Hatta yaitu : …..Kemana tujuan produksi yang akan dijalankan dengan industrialisasi?Pada jawab pertanyaan ini tersangkut bagi cita-cita industrialisasi itu. Ujud produksi yang sehat ialah memuaskan rakyat dalam negeri: Pokok perekonnomian ialah konsumsi rakyat …
Kelemahan Koperasi Indonesia saat ini
Sebenarnya koperasi memegang peranan yang sangat vital dan strategis dalam perekonomian Indonesia. Namun, sayang saat ini belum banyak dari kita selaku penggerak koperasi yang benar-benar mengerti dan mau mendalami koperasi ini secara sungguh-sungguh seperti dengan apa yang disarankan oleh Bung Hatta.
Hal ini bisa dilihat dari peran koperasi saat ini di Desa kita masing-masing. Koperasi di desa-desa kita kurang berjalan dengan optimal karena baik dari karena factor intern maupun ekstern. Daktor intern misalnya kurangnya pemahaman tentang apa itu koperasi dan kinerjanya. Faktor ekstern bisa dari pemerintah misalnya kurangnya pemberdayaan yang dilakukan pemerintah terhadap koperasi-koperasi di lingkup kita.
Mungkin kita perlu mempertanyakan pula peran pemerintah saat ini, kenapa memberikan bantuan kepada pengusaha kita dengan system kredit?. Kenapa tidak diberikan langsung secara gratis Cuma-Cuma kepada masyrakat yang benar-benar tidak mampu secara ekonomi serta memberdayakan potensi mereka.
Kita cukup kaya dengan berbagai kekayaan alam yang bisa untuk dikembangkan ke dalam industri perdagangan juga industri makanan. Kesadaran masyarakat, bila tidak didukung oleh pemerintah, maka hal ini dirasa kurang. Karena untuk membangun sebuah industri rumah tangga kecil untuk dikembangkan menjadi cukup besar perlu pelatihan serta pembinaan dari pemerintah.
Kita bisa melihat makanan khas dari daerah ketika kita berwisata ke daerah-daerah di Indonesia misalnya jenang dodol dari bandung, bakpia patuk dari jogja,kue pastel dari klaten, dan lain sebagainya. Selain industri makanan, kita juga bisa mengembangkan dari industri kerajinan seperti solo cukup potensi dengan batiknya, kemudian klaten dengan industri cinderamata dari kayu bamboo,dan lain sebagainya.
Permberdayaan melalui koperasi akan lebih sesuai dengan karakter dari masyarakat Indonesia itu sendiri juga sesuai dengan dasar perekonomian di Indonesia yaitu dengan prinsip perekonomian berdasarkan konsep kekeluargaan. Koperasi saat ini cenderung hanya sebagai pemasar produk-produk luar saja, sedang dari makanan, atau produk dari dalam dareah kita sendiri sangat jarang diperhatikan.
Padahal kalau kita perhatikan selama ini, kelemahan ekonomi kita adalah karena kita belum bisa memegang dua peranan penting dalam ekonomi yaitu produksi dan distribusi. Hal ini sejalan dengan apa yang dipesankan oleh Bung Hatta yaitu : Yang hendak kita persoalkan disini ialah kedudukan soal ekonomi dimasyarakat kita. Kaum produsen sebagian terbesar dari masyarakat kita,konsumen demikian pula. Akan tetapi, kaum distributor terdiri dari bangsa asing.Dan inilah satu pokok yang penting dan menjadi sebab kelemahan ekonomi masyarakat kita.
Kita perhatikan kedudukan produksi kita. Disini tampak bahwa penghasilan kita amat terpecah-pecah dan sama sekali tidak mempunyai susunan yang sederhana. Di mana-mana terdapat produsen kecil-kecil, bekerja dengan hampir –hampior tidak berpokok. Dengan keadaan inilah, mereka lebih mudah terjerat oleh lintah darat dalam desa.
Itulah sebabnya maka petani menjadi tukang tanam,sedangkan buahnya sudah orang asing empunya. Dengan jalan piutang, para pemodal cukup bisa memiliki hak atas tanah pribadi dari petani. Saat ini, masyarakat pun sudah terstigma bahwa banklah yang bisa menyelesaikan persoalan mereka. Oleh karena itu, dibutuhkan peran dari pemerintah dan masyarakat untuk saling mendukung dan mendorong gerakan koperasi ini sebagai gerakan pembangkit harapan ekonomi kita.
Koperasi dengan berbagai prinsip kekeluargaan, kerakyatan, semangat gotong royong, kerjasama, merupakan suatu solusi ditengah permasalahan perekonomian bangsa yang cukup lama ini. Hal ini sudah diprediksi kan lama oleh bapak koperasi kita, Bung Hatta dengan membuat pasal 33 saat itu.
Sehingga diharapkan ekonomi Indonesia terbebas dari jeratan utang, dan bisa mencapai kemajuan dengan semangat kemandirian tidak seperti saat ini. Karena, bila bangsa sudah bisa mandiri, maka bangsa tersebut akan semakin dekat dengan kemajuan. Semoga
*(Alumni pengurus Koperasi Mahasiswa Universitas Mahasiswa Surakarta2007/2008)