” MEmPertanYakan Kembali Peran Koperasi Dalam Perekonomian IndonesiA”

Mempertanyakan Kembali Peran Koperasi dalam Perekonomian Indonesia
*oleh Arif Saifudin Yudistira
Keadaan ekonomi Indonesia sampai saat ini memang masih carut-marut dan belum banyak berubah. Di tengah bahaya dan cengkeraman kapitalisme modal, kita dihadapkan pula dengan adanya globalisasi yang menuntut kita menghadapi pilihan yang memberatkan.
Meskipun keadaan ekonomi kita saat ini masih carut-marut dan tidak stabil, namun semangat dari rakyat Indonesia tidak kenal menyerah. Namun, di saat semangat para pengusaha kecil di kalangan bawah, lagi-lagi mereka terbentur dengan permasalahan modal. Kita bisa cukup lega karena baru-baru ini pemerintah dari kementerian koperasi mengucurkan dana kredit Usaha Rakyat (KUR) yang cukup bisa membantu masyarakat.
Kegigihan pengusaha kecil dalam menjalankan kualitas usahanya sudah tidak diragukan lagi. Semangat bangkit dari keterpurukan,semangat berkemajuan,dan menghadapi tempaan rakyat kita luar biasa dan patut kita beri acungan jempol.
Hal ini juga terbukti ketika tahun-tahun lalu pemerintah merasa menyesal ketika memberikan kredit kepada pengusaha-pengusaha besar yang akhirnya berujung pada kredit macet. Kegigihan pengusaha kecil juga dapat dilihat dengan semakin berkembangnya waeung “HIK” yang sudah cukup popular dan menggembirakan di wilayah Solo,Klaten,dan sekitarnya.
Di saat yang bersamaan pula, ada beberapa koperasi mengalami kebangkrutan karena dampak kenaikan BBM. Pemerintah selama ini pun kurang memperhatikan mengenai pemberdayaan koperasi dan usaha kecil serta menengah. Kita bisa melihat ini dari kesan yang ditimbulkan karena pemerintah baru mampu memberikan bantuan modal saja, sedang disisi pemberdayaan dan pembinaan masih kurang.
Liberalisasi ekonomi yang diusung pemilik modal skala global dan rakus kian meneguhkan korporatokrasi(perkins,2003), hal ini juga berakibat bahwa pemerintah akan lebih mempercayai menajemen internasional,serta kepercayaan terhadap adanya privatisasi. Hal ini amat berbeda ketika kita lebih mengoptimalkan koperasi.
Seperti pada kasus minyak saat ini, ketika kita menggunakan prinsip ekonomi koperasi, kita tentu akan menggunakan minyak tersebut untuk kepentingan dalam negeri dulu, sebelum diekspor. Hal ini sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Bung Hatta yaitu : …..Kemana tujuan produksi yang akan dijalankan dengan industrialisasi?Pada jawab pertanyaan ini tersangkut bagi cita-cita industrialisasi itu. Ujud produksi yang sehat ialah memuaskan rakyat dalam negeri: Pokok perekonnomian ialah konsumsi rakyat …

Kelemahan Koperasi Indonesia saat ini
Sebenarnya koperasi memegang peranan yang sangat vital dan strategis dalam perekonomian Indonesia. Namun, sayang saat ini belum banyak dari kita selaku penggerak koperasi yang benar-benar mengerti dan mau mendalami koperasi ini secara sungguh-sungguh seperti dengan apa yang disarankan oleh Bung Hatta.
Hal ini bisa dilihat dari peran koperasi saat ini di Desa kita masing-masing. Koperasi di desa-desa kita kurang berjalan dengan optimal karena baik dari karena factor intern maupun ekstern. Daktor intern misalnya kurangnya pemahaman tentang apa itu koperasi dan kinerjanya. Faktor ekstern bisa dari pemerintah misalnya kurangnya pemberdayaan yang dilakukan pemerintah terhadap koperasi-koperasi di lingkup kita.
Mungkin kita perlu mempertanyakan pula peran pemerintah saat ini, kenapa memberikan bantuan kepada pengusaha kita dengan system kredit?. Kenapa tidak diberikan langsung secara gratis Cuma-Cuma kepada masyrakat yang benar-benar tidak mampu secara ekonomi serta memberdayakan potensi mereka.
Kita cukup kaya dengan berbagai kekayaan alam yang bisa untuk dikembangkan ke dalam industri perdagangan juga industri makanan. Kesadaran masyarakat, bila tidak didukung oleh pemerintah, maka hal ini dirasa kurang. Karena untuk membangun sebuah industri rumah tangga kecil untuk dikembangkan menjadi cukup besar perlu pelatihan serta pembinaan dari pemerintah.
Kita bisa melihat makanan khas dari daerah ketika kita berwisata ke daerah-daerah di Indonesia misalnya jenang dodol dari bandung, bakpia patuk dari jogja,kue pastel dari klaten, dan lain sebagainya. Selain industri makanan, kita juga bisa mengembangkan dari industri kerajinan seperti solo cukup potensi dengan batiknya, kemudian klaten dengan industri cinderamata dari kayu bamboo,dan lain sebagainya.
Permberdayaan melalui koperasi akan lebih sesuai dengan karakter dari masyarakat Indonesia itu sendiri juga sesuai dengan dasar perekonomian di Indonesia yaitu dengan prinsip perekonomian berdasarkan konsep kekeluargaan. Koperasi saat ini cenderung hanya sebagai pemasar produk-produk luar saja, sedang dari makanan, atau produk dari dalam dareah kita sendiri sangat jarang diperhatikan.
Padahal kalau kita perhatikan selama ini, kelemahan ekonomi kita adalah karena kita belum bisa memegang dua peranan penting dalam ekonomi yaitu produksi dan distribusi. Hal ini sejalan dengan apa yang dipesankan oleh Bung Hatta yaitu : Yang hendak kita persoalkan disini ialah kedudukan soal ekonomi dimasyarakat kita. Kaum produsen sebagian terbesar dari masyarakat kita,konsumen demikian pula. Akan tetapi, kaum distributor terdiri dari bangsa asing.Dan inilah satu pokok yang penting dan menjadi sebab kelemahan ekonomi masyarakat kita.

Kita perhatikan kedudukan produksi kita. Disini tampak bahwa penghasilan kita amat terpecah-pecah dan sama sekali tidak mempunyai susunan yang sederhana. Di mana-mana terdapat produsen kecil-kecil, bekerja dengan hampir –hampior tidak berpokok. Dengan keadaan inilah, mereka lebih mudah terjerat oleh lintah darat dalam desa.
Itulah sebabnya maka petani menjadi tukang tanam,sedangkan buahnya sudah orang asing empunya. Dengan jalan piutang, para pemodal cukup bisa memiliki hak atas tanah pribadi dari petani.  Saat ini, masyarakat pun sudah terstigma bahwa banklah yang bisa menyelesaikan persoalan mereka. Oleh karena itu, dibutuhkan peran dari pemerintah dan masyarakat untuk saling mendukung dan mendorong gerakan koperasi ini sebagai gerakan pembangkit harapan ekonomi kita.
Koperasi dengan berbagai prinsip kekeluargaan, kerakyatan, semangat gotong royong, kerjasama, merupakan suatu solusi ditengah permasalahan perekonomian bangsa yang cukup lama ini. Hal ini sudah diprediksi kan lama oleh bapak koperasi kita, Bung Hatta dengan membuat pasal 33 saat itu.
Sehingga diharapkan ekonomi Indonesia terbebas dari jeratan utang, dan bisa mencapai kemajuan dengan semangat kemandirian tidak seperti saat ini.      Karena, bila bangsa sudah bisa mandiri, maka bangsa tersebut akan semakin dekat dengan kemajuan. Semoga

*(Alumni pengurus Koperasi Mahasiswa Universitas Mahasiswa Surakarta2007/2008)

Bookmark and Share

Comments (1) »

” MAsihkah Ada HArapan ???”

“MAsihKah Ada Harapan???”

Pertanyaan inilah yang pantas kita ajukan kepada para calon wakil rakyat kita yang akan maju menjadi wakil rakyat kita pada pemilu 2009 nanti. Indonesia seperti layaknya yang digambarkan oleh penyair-penyair “ bicara Indonesia seperti bicara dalam cerobong asap, meski gelap dan pengap toh kita masih tetap berharap”.

Tidak salah memang apa yang digambarkan oleh penyair diatas. Tatanan Negeri ini sudah hancur,dihancurkan oleh penguasa yang haus akan kekuasaan. Cukup sudah masyarakat berharap, karena tiada lagi memang yang bisa diharapkan untuk membawa perubahan.

Sistem di Negara ini sepertinya sudah tidak ada lagi yang bisa ditawarkan untuk membangun negeri ini menjadi negeri yang berdikari. Pengkhianatan konstitusi kita ada dimana-mana. Kita bisa melihat berapa persen produk undang-undang yang pro kepada rakyat. Hampir tidak ada undang-undang yang berfihak kepada kesejahteraan rakyat.

Undang-undang penanaman modal asing, undang-undang mineral dan batubara, maupun undang-undang minyak dan gas hanya berfihak pada investor asing saja.Tidak salah apa yang dikatakan Sukarno : “ Kolonialisasi hanya soal rejeki”. Akan tetapi, saying Indonesia yang kaya penduduk dan kaya sumber daya alam penguasanya justru menjualnya dengan membungkukkan badannya kepada pemodal dan korporat asing.

Kita bisa melihat hancurnya system di negeri ini hampir di setiap sector. Pertama, di sector hukum. Hukum kita seperti halnya jual-beli. Mulai dari tingkat bawah sampai tingkat tinggi. Mulai dari kasus pencurian di desa hingga kasus korupsi semuanya sama.

Idealnya ketika kita melapor ada masalah pada polisi maka kita akan mendapatkan bantuan. Akan tetapi lain ketika di negeri Indonesia justru kita akan kehilangan uang kita untuk membayar para penegak hukum. Bagaimana mungkin kita bisa mewujudkan keadilan bila para penegak hukum maupun system yang mendukung tegaknya keadilan sudah rusak seperti ini.

Kita bisa melihat kasus minum-minuman keras. Para polisi tentu tahu jaringan-jaringan pengedar maupun pabriknya langsung, akan tetapi kenapa minum-minuman keras tetap ada di tangan para pengecer. Karena pajak yang diberikan pabrik minuman keras tidak sedikit.

Kedua, pada system birokrasi. Birokrasi kita adalah birokrasi yang paling boros dibanding Negara-negara lain. KTP yang seharusnya gratis saja, harus bayar puluhan ribu rupiah di kota-kota besar. Kalau tidak percaya silahkan saja anda mengurus pembuatan SIM di kantor polisi. Kalau tidak memakai uang maka akan lama waktu pembuatannya.

Ketiga, Sistem ekonomi kita. Jangan heran kalau negeri kita negeri terkorup nomer satu, karena system ekonomi kita sudah benar-benar hancur. Sistem ekonomi kita adalah system ekonomi yang menghamba pada pasar. Sudah tidak ada lagi peran Negara dalam system ekonomi kita. Bisa kita cek pada peraturan menteri kita yang menghalalkan impor barang jenis berat sampai teringan pun gratis. Akan tetapi lain halnya dengan kaum pengusaha negeri kita sulit kita temukan dari mereka yang bebas pajak.

Keempat, system pertambangan kita. Apalagi pada sector ini, hampir tidak ada lagi harapan pada sector ini, pencuri kekayaan alam kita dilindungi Negara kita. Dengan adanya undang-undang penanaman modal tidak ada lagi jaring pengaman bagi pertambangan kita. Kekayaan negeri ini sudah habis diraup oleh para pemodal dan korporat asing. Bahkan nurani pemimpin negeri ini bisa dikatakan mati.

Kasus Freeport, kasus newmon, dan kasus lainnya menjadi bukti bahwa pemerintah lebih berfihak pada pemodal. Tanah rakyat digusur demi pertambangan dengan nilai tukar yang tidak manusiawi, bahkan sampai penduduk negeri sendiri diusir dengan paksa dengan pembuangan limbah yang mencemari laut kita seperti yang ada pada kasus newmon.

Tidak tanggung-tanggung para perampok ini berhenti, sector pendidikan pun jadi sasaran berikutnya. Bagaimana kita membangun reformasi atau bahkan revolusi jika komponen-komponennya sudah diliberalisasi bahkan dikomersialisasikan.

Siapa yang tahu undang-undang BHP yang pada pasal awal-awalannya begitu bagus, akan tetapi pada pasal berikutnya mengarah pada liberalisasi dan komersialisasi. Negeri ini sudah dijual oleh pemimpin kita sendiri.

Layaknya perlu kita merenungkan pesan sukarno bukan hanya pada Megawati akan tetapi pada seluruh bangsa juga : “ Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, sedang perjuanganmu akan lebih berat karena melawan bangsamu sendiri”. Inilah kiranya jaman yang sudah dipesankan oleh Sukarno.

Tiada lagi yang diharapkan di negeri ini. Semua sector sudah rusak, gerakan penyadaran, dan gerakan alternatif perlu kita lakukan dari sekarang. Tenbtu kita sebagai warga Negara ini tidak ingin Negara ini hancur perlahan-lahan. Sudah saatnya semua rakyat Indonesia sadar akan yang terjadi saat ini.

Harapan akan selalu ada, jika kita mau berjuang demi tegaknya kembali kedaulatan negeri ini. Cita-cita sukarno, Hatta, Tan malaka yang belum selesai harus kita selesaikan. Demi terwujudnya negeri subur indah makmur, adil aman, dan sentosa.

Bicara Indonesia,

Seperti bicara dalam cerobong asap,

Meski gelap dan pengap

Toh kita masih tetap berharap,

Penulis adalah Aktivis IMM masih belajar di Universitas Muhammadiyah Surakarta, Mahasiswa bahasa Inggris Semester 5

Bookmark and Share

No comment »

” BajINGan AGaMa “

Bajingan Agama”

by Arif Saifudin Yudistira*

Sudah cukup lama insan Indonesia dikatakan sebagai orang yang taat beragama atau bangsa yang religius. Namun, pada kenyataannya dalam taraf aplikasi, masih banyak saja kejahatan, dan problema-problema yang timbul atas legitimasi agama.

Agama pada dasarnya merupakan aturan-auturan yang mengatur umatnya untuk menjalani kehidupan sesuai titahnya sebagai manusia. Hakikatnya agama akan membawa keselamatan bagi pemeluknya.

Pertanyaannya sekarang apakah Agama masih menjadi sandaran untuk keselamatan, kebahagiaan, dijaman yang serba susah dan penuh tantangan ini?. Jawabannya tentu ya, karena agama saat ini yang muncul tidak hanya agama samawi (Islam,Kristen,Yahudi) tapi juga agama yang menjadi spirit manusia modern saat ini.

Kita bisa melihat adanya hedonisme, konsumeristik, liberalisme,kapitalisme,dan lain-lain. Hal itulah yang sekarang menjadi agama baru bagi manusia modern. Justru saat ini, agama yang sebenranya mereka yakini dijadikan legitimasi bagi agama baru mereka.

Satu contoh yang baru-baru ini kita dengar. Kok bisa seorang petinggi negara meminta kepada MUI untuk membuat fatwa bahwa golput itu haram. Padahal sudah jelas, memilih adalah hak, bukan kewajiban. Jadi, golput tidak bisa disamakan dengan daging babi. Sepertinya manusia sekarang sudah bisa menjadi Tuhan(Erich From). Mengingat yang bisa memutuskan haram-halal adalah Tuhan tentunya.

Begitu takutnya pemerintah saat ini menghadapi mosi tidak percaya dari rakyat. Mengingat rakyat sekarang sudah makin dewasa dan tidak bisa dibohongi lagi. Dunia politik kita terlalu mahal dan penuh dengan manipulasi. Kebosanan itulah yang jadi jawaban masyarakat atas keadaan seperti ini.

Agama saat ini di Indonesia Cuma dijadikan legalitas saja. Undang-Undang Pornografi yang sudah disahkan, belum begitu signifikan bagi perubahan akhlaq orang- orang beragama. Masih banyaknya kasus-kasus asusila, dan lain-lain juga disebabkan oleh tidak adanya pembangunan moral bagi masyarakat indonesia.

Lihat saja tayangan di TV kita, masih banyak juga tayangan berbau pornografi yang masih saja ditayangkan. Padahal efek media inilah yang begitu besar mempengaruhi psikologis orang yang melihat, bahkan bisa sampai ke perilaku kesehariannya.

Peran lembaga sensor film saat ini masih dipertanyakan. Karena masih saja menayangkan film yang ternyata memberi sumbangsih bagi rusaknya generasi muda. Tidak hanya itu, tayangan mana yang saat ini bisa memberikan pendidikan bagi anak-anak kita dan pemuda kita?. Hampir tidak ada yang memberikan pendidikan bagi generasi muda dan anak-anak kita. Yang ada justru yang mengarah pada hancurnya moralitas bangsa kita.

Peran agama saat ini pun hampir tidak ada ketika terbitnya undang-undang yang merampok kekayaan kita. Belum ada satu lembaga agama pun yang memberikan pernyataan bahwa UU Penanaman Modal adalah haram, UU BHP adalah haram, atau UU MINERBA adalah haram.

Begitupun ormas-ormas keagamaan, tidak jauh berbeda keaadannya. Mereka lebih suka mengurus masalah-masalah yang kurang esensial. Seperti membubarkan diskotik, mengurusi masalah aliran sesat dan lain-lain. Padahal, hal tersebut bergantung dari kesadaran bergama dari para pemeluknya.

Padahal ada yang lebih sesat lagi, yaitu menjual bangsanya sendiri dengan menerbitkan undang-undang yang menindas rakyat. Sudah waktunya para pemeluk agama sadar akan kondisi ini.

Agar bangsa ini bisa lekas sembuh dari sakit yang berkepanjangan ini.Ketika para pemeluk agama tetap seperti ini terus, maka tinggal menunggu kehancuran Indonesia. Sudah waktunya para ”Bajingan Agama” dimusnahkan dari bumi Indonesia. Agar cita-cita bangsa ini segera bisa terwujud.

Penulis adalah aktifis IMM kota Surakarta,Belajar di Universitas Muhammadiyah Surakarta

Bookmark and Share

Comments (1) »

“MEneroPong Arah Gerak Imm Menuju GeraKan Pencerahan”

Meneropong Arah Gerakan Imm Menuju Gerakan Pencerahan

Oleh Arif Saifudin Yudistira

Pergerakan itu maju kalau tidak ditindas, pergerakan juga maju kalau ditindas”

(Sukarno)

Imm sebagai sebuah gerakan tentu sangat penting peranannya dalam mengemban misi kenabian dan dalam mengemban misi kerakyatan. Imm tidak hanya berfungsi sebagai gerakan dakwah, akan tetapi juga berfungsi sebagai gerakan umat, gerakan perkaderan, juga gerakan kerakyatan.

Sebagai gerakan yang ada dalam lingkup kemahasiswaan tentunya kita mempunyai peran penting dalam mempengaruhi, mengajak, dan melakukan perubahan dan membawa iklim yang kondusif dalam rangka mendukung dan mewujudkan cita-cita bangsa.

Tak terasa umur IMM sudah tidak lagi muda, karena sudah kepala empat. Tentu watak dan karakter harus sudah berubah. Watak dan karakter gerakan kita jangan sampai seperti yang dikatakan syafii maarif yaitu beromantisme internal.

IMM harus sudah saatnya progress, futuristic tanggap terhadap permasalahan-permsalahan yang ada di lingkungan IMM pada khususnya dan kebangsaan pada umumnya.

Zaman yang makin lama makin bergerak harus kita hadapi tantangan-tantangannya. Ke depan apa yang perlu dilakukan IMM?sebenarnya pertanyaan inilah yang cukup mendasar. Hal yang bisa kita lakukan sebagai penggerak IMM adalah :

Pertama, Reorientasi gerakan secara terarah. Dalam hal ini IMM harus menentukan orientasi dan program yang jelas bagaimana gerakan ini akan dibawa. Mau ke arah pragmatiskah?,ke arah romantismekah? Atau kerakyatan?.

Kedua, Implementasi manifesto profetik. Sudah saatnya IMM menunjukkan bahwa dia adalah gerakan yang berkarakter. Bagaimana masyarakat akan melihat bahwa kita punya posisi tawar yang jelas dan terarah.

Ketiga, MElakukan Pembaruan Pemikiran Islam. Dalam hal ini IMM harus merubah konstruk pemikiran yang taqlid dan kita harus melakukan pembaruan pemikiran kita selaku kader IMM. Bagaimana kita bisa berfikir progress, futuristic,dan toleran.

Keempat,Perubahan Konsep perkaderan dengan konsep liberatif dan humanis. Dalam hal ini ke depan kita perlu mengubah konsep perkaderan kita yang non humanis, penuh dengan pemenjaraan pikiran,dan elitis.

Kita perlu mengubah konsep perkaderan yang demikian dengan konsep perkaderan yang liberatif dan humanis. Kader harus kita biarkan bagaimana agar mereka senantiasa berubah menjadi manusia yang seutuhnya. Biarkan mereka berindividuasi dan menemukan dirinya masing-masing. Tugas kita adalah membantu saja agar mereka menemukan dirinya itu.

Terakhir, Seperti yang dikatakan sukarno “pergerakan itu maju kalau ditindas,pergerakan itu maju kalau tidak ditindas”. IMM harus senantiasa membangun semangat kemandirian, tidak membiarkan untuk terus menyandarkan “ndoke si blorok”(mengandalkan pada atasan).

IMM harus tetap berdikari meskipun banyak penindasan menimpa dirinya. Baik itu kampanye hitam, penghambatan gerakan,dan lain-lain.IMM harus menjadi pelopor untuk melawan penindasan sistemik,dan penindasan akal. Bagaimana IMM berperan untuk menjadi stake holder dalam aksi massa agar terwujud gerakan yang membebaskan.

Penulis adalah Aktifis IMM, artikel ini disampaikan dalam diskusi “ Meneropong Arah Gerak IMM” IMM FKIP UMS,

Bookmark and Share

No comment »

” KhaZanaH Bahasa IkLaN “

Khazanah bahasa iklan

Ketika kita membaca slogan yang ada pada bahasa iklan kita akan menemukan sesuatu yang luar biasa. Bahasa iklan memang bukan sekadar bahasa seperti yang kita gunakan sehari-hari.

Tidak hanya itu, bahasa iklan mempunyai beberapa karakteristik yang menyebabkan kita selaku audiens bisa tertarik untuk melihat, mendengar, mengingat atau bahkan membeli produk iklan itu. Bahasa iklan mempunyai khazanah yang luar biasa kalau kita mau memahami dan mempelajarinya. Ada beberapa hal yang menjadikan bahasa iklan menjadi penuh khazanah bila kita kaji. Pertama, bahasa iklan mengandung sesuatu hal yang sebenarnya ada di sekitar kita namun jarang kita perhatikan (baca: terinspirasi). Sehingga bahasa iklan begitu mudah diingat. Misalnya: ”Teman selalu bisa dijadikan sandaran.” Kalimat ini tentu akan mudah diingat dan biasa terjadi di lingkungan kita sehari-hari. Kemudian yang lain misalnya: ”Nggak ada loe nggak rame itu juga sebenarnya merupakan lelucon yang mungkin biasa diucapkan kita. Kedua, dalam bahasa iklan tidak perlu menggunakan bahasa baku yang penting unik dan memikat. Misalnya seperti kata di atas: ”Sueeger tenan”, ”Nggak ada loe nggak rame”, ”ueenak tenan”, ”roso-roso”, mamamia lezatos dan lain-lain. Ketiga, terkadang bahasa iklan juga mengandung makna filosofis. Padahal tak banyak yang memperhatikan maknanya, namun hanya membeli produknya. Misalnya: ”Perubahan itu perlu”, ”Berani kotor itu baik”, ”Talk less do more” dan lain-lain. Terakhir, bahasa iklan juga bisa mengandung makna ajakan. Hal ini bisa kita lihat dalam iklan layanan masyarakat. Misalnya: ”Ayo pakai produk Indonesia” dan ”Lindungi hutanmu.” - Oleh : Arif Saifudin Y Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta
Bookmark and Share

No comment »

” BelaJarLah Sampai Ke Negeri Cina”

“Belajarlah Sampai Ke Negeri Cina”

Begitulah ajaran yang disampaikan oleh Rosululloh,SAW. Kita tahu bahwa Rosululloh beribu tahun yang lalu mengucapkan itu bukan asal-asalan. Cina sudah begitu tenar namanya sampai ke jazirah Arab.

Saat itu Cina unggul dalam berbagai bidang, utamanya cina unggul dalam bidang perdagangannya. Selain itu, ada beberapa hal yang perlu kita kaji mengapa Rosul sampai bersabda “Belajarlah sampai ke negeri Cina” tentunya Cina mempunyai sesuatu yang bisa kita jadikan pelajaran.

Kalau kita mau membaca dan mencermati keadaan Cina saat ini, tentu akan kita lihat kebenaran dari apa yang menjadi sabda nabi diatas. Cina begitu menjadi pusat perhatian dunia sampai saat ini. Lihat saja kemeriahan dan gemerlap pembukaan dan penutupan olympiade Beijing kemarin. Hal tersebut membuat kagum dan takjub dunia, karena Cina selain menampilkan pertunjukkan yang spektakuler, juga tidak meninggalkan segi budayanya.

Kunggulan cina begitu luar biasa dan begitu banyak. Perdagangan misalnya, orang-orang Cina dikenal sebagai orang yang ulet,tekun, serta tanggung jawab. Maka tak heran, Cina juga menguasai sebagian besar perekonomian dunia, tidak ketinggalan perekonomian bangsa kita.

Kita bisa melihat di daerah sekitar kita, mall-mall, took-toko bangunan, dan lain-lain pemiliknya orang Cina. Bukan hanya itu, penduduk Cina juga tersebar hampir di seluruh belahan dunia. Selain itu, Cina juga tempat peradaban dan budaya tertua di dunia. Kita akan tahu bahwa Cina adalah negeri yang cukup beradab dan diperhitungkan di mata dunia.

Peradaban yang sangat tinggi itu bisa kita lihat di film-film Cina. Kita bisa menemukan kata-kata mutiara yang begitu luar biasa dan mendalam yang bisa kita temukan dalam percakapan dalam film-film Cina. Salah satu kata yang juga menjadi prinsip orang Cina yaitu “ Tidak ada organisasi maka tidak ada disiplin”. Disiplin, ketepatan waktu,dan komitmen adalah nilai yang sampai sekarang dipegang oleh orang cina. Maka wajar, ketika Cina sudah melakukan kesepakatan, kontrak dan lain-lain, pantang ia mencabut kembali. Ini bisa kita lihat pada kasus kontrak LNG tangguh pada waktu pemerintahan megawati kemarin.

Yang Kedua, Orang Cina meskipun dikenal orang yang komunis, tapi mereka begitu menjunjung nilai-nilai religiusitas. Seperti dalam ungkapan “ Tuhan menolong mereka yang menolong dirinya sendiri”. Hal ini sama dengan yang diajarkan Islam. “ Alloh tidak akan mengubah nasib seseorang melainkan dia yang mengubahnya sendiri”.

Sayang, kita jarang sekali memperhatikan nilai-nilai dan budaya yang luhur dari Cina. Walaupun itu hanya ada dalam film. Maka sangat sesuai ketika nabi bersabda : “ Belajarlah Sampai Ke Negeri Cina”

Kata-kata ketiga adalah “ Hidup butuh pemikiran yang bijak”. Kata-kata ini begitu menjadi prinsip orang Cina ketika menghadapi kehidupan di era global. Kata-kata inilah yang menjadi semangat dan etos kerja orang Cina. Orang Cina dikenal begitu perhitungan,begitu cermat,dan penuh pertimbangan dalam melakukan sesuatu.

Terakhir, kata-kata yang mungkin bisa menjadi pelajaran berharga bagi kita semuadi era saat ini yaitu “Komoditas paling baik di abad 20 ini adalah bakat”. Kita bisa melihat aplikasi dari kata-kata ini di film “ Iam not stupid” yang begitu menggambarkan pentingnya mengembangkan bakat.

Komitmen Cina tak kalah hebatnya di bidang ilmu pengetahuan, tetapi juga ddi bidang bakat. Terbukti pada olympiade kemaren, Cina berhasil menyabet berbagai juara dan di berbagai cabang perlombaan. Inilah nilai-nilai yang seharusnya menjadi pelajaran bagi kita, juga bangsa Indonesia. Walaupun terkadang nilai-nilai itu kadang tidak kita perhatikan, padahal mungkin nilai-nilai itu walau hanya ada dalam film. Namun, ketika kita mau mengambil pelajaran dari Cina,tentu kita akan menemukan sesuatu yang luhur dan luar biasa yang bisa kita temukan dari Cina. Oleh karena itu, “ Belajarlah Sampai Ke Negeri Cina”.

Bookmark and Share

No comment »

“AsaL PeruT KenYanG”

Asal Perut Kenyang

Rasa pesimisme masyarakat pada pemilu 2009 sudah  terlihat jelas. Selain itu, masyarakat saat ini sudah terlalu capek mendengar janji-janji manis yang dilontarkan oleh calon-calon pemimpin bangsa ini.
Mengingat banyaknya masyarakat yang memilih untuk golput pada pilkada di beberapa daerah seperti di pilkada Jawa Tengah misalnya yang mencapai 40% lebih.
Masyarakat memilih golput bukan tanpa alasan. Hal ini bisa kita lihat pada partisipasi  dan minat masyarakat untuk datang ke TPS(Tempat pemungutan Suara). Mereka lebih memilih bekerja seperti biasanya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka, atau melakukan aktifitas rutin lainnya dari pada mereka harus menyempatkan waktunya untuk datang ke TPS untuk memilih calon pemimpin mereka.
Sedangkan untuk masyarakat pedesaan, paradigma yang akan menjadi “pemimpin harus orang kaya” sudah menjadi paradigma yang sulit diubah. Masyarakat saat ini beranggapan bahwa mereka yang kaya nantilah yang akan menjadi pemimpin mereka, karena kalau tidak kaya bagaimana bisa mensejahterakan mereka.
Hal inilah yang menyebabkan minat masyarakat menjadi rendah. Mereka akan datang ke tempat TPS kalau ada calon pemimpin yang memberi imbalan uang atau sembako.
Mereka tidak berpandangan jauh ke depan apakah moral pemimpin itu baik, atau tidak asalkan mereka mendapat imbalan barulah mereka bersedia memberikan suaranya. Akibatnya, pemimpin yang tidak punya modal tapi jujur akan cenderung mengalami kekalahan.
Maka tidak heran bila hampir di setiap pemilu terjadi pelanggaran khususnya dalam money politic. Hal seperti ini seperti sudah menjadi kebiasaan dalam masyarakat kita.
Maka tidak heran ketika pemimpin yang punya modal menang, mereka akan tersenyum lebar, karena mereka akan mengembalikan modal lebih banyak lagi. Jarang pemimpin yang sudah terpilih itu kemudian menangis karena masih banyak rakyat yang miskin.
Bila hal ini terus dibiarkan, maka demokrasi dalam ancaman. sudah tidak lagi berfihak pada rakyat. Sehingga pemimpin yang jadi nanti cenderung akan berusaha sekeras mungkin untuk mengembalikan modalnya bukan untuk mensejahterakan rakyatnya.

Bookmark and Share

No comment »

“UtoPia PendIdiKan KiTa”

“Utopia Pendidikan Kita”
Oleh Arif Saifudin Yudistira*
Bicara mengenai pendidikan kita seperti tidak pernah berhenti membicarakan permasalahan. Karena, tiap kali kita membahas unsur-unsur maupun komponen-komponennya tentu kita akan menemukan setiap permasalahan di dalamnya.
Sulit sekali mewujudkan pendidikan yang sebenarnya di era saat ini. Karena setiap kali mendengar kata pendidikan, kita dipaksakan dengan menyebutkan nama-nama seperti sekolah, gedung,SPP,dan lain-lain.
Pendidikan saat ini layaknya pasar yang terus berkembang dan rumit dengan berbagai perangkatnya. Pendidikan yang seperti ini akibat pendidikan kita telah direduksi dari arti yang sebenarnya.
“ Tugas pendidikan adalah menggantikan pikiran yang kosong dengan pikiran yang terbuka”(Malcolm Fobes). Saat ini pendidikan kita bukan menjadi pendidikan yang membebaskan, akan tetapi menjadi sebuah penjara yang membelenggu.
Lihat saja,murid-murid kita dari SD hingga perguruan tinggi, mereka akan sangat senang ketika libur tiba atau pelajaran kosong. Aneh, inilah yang terjadi dalam pendidikan kita selama ini. Bukan senang dengan pelajaran yang ada disekolahan mereka.
Tetapi mereka lebih senang belajar melalui alam, belajar akhlak, belajar gotong royong,dan belajar semuanya. Namun semua itu berubah ketika mereka berada dalam kelas, seperti PR, tugas, takut dimarahi guru, takut dikasih skor yang jelek dan lain-lain.
Pendidikan kita belum mampu menjawab segala persoalan bangsa yang ada selama ini. Karena memang tidak diarahkan ke arah sana. Dan memang pemerintahan kita belum mampu mewujudkan pendidikan yang mampu menghadapi masalah seperti yang dikatakan oleh Paulo Freire.
Ini terjadi karena pendidikan kita hanya layaknya sistematika pasar seperti gaya “banking consept of education”(gramcian)dimana pelajar diberi pengetahuan yang kelak dapat menghasilkan hasil yang berlipat ganda.
Kalau tidak percaya silahkan lihat fenomena universitas-universitas yang dengan segera membuka jurusan-jurusan baru untuk memenuhi kepentingan pasar. Misalnya saja, maraknya jurusan PGSD, PAUD, dan lain-lain yang tiap tahun berubah sesuai dengan kepentingan pasar yang ada.
Anggaran pendidikan kita yang rencananya 2009 diterapkan 20% tidak berdampak perubahan pada guru-guru tidak tetap dan honorer. Masih banyak guru-guru honorer dan tidak tetap yang telah banyak berjuang dan masih kurang beruntung.
Yang terjadi saat ini juga berdampak bagi calon-calon guru kita, saat ini calon-calon guru kita jarang yang mau ditempatkan di pelosok-pelosok. Mereka ingin cepat lulus, cepat mengajar , namun ingin juga dapat gaji besar.
Orientasi mereka sudah berubah, tujuan mereka bukan lagi mencerdaskan kehidupan bangsa, tatapi sudah berorientasi ke materi atau uang dan kesejahteraan pribadi mereka saja.
Hal ini tentu akan membahayakan bagi masa depan pendidikan kita kedepan. Bagaimana bangsa kita bisa maju, bila guru-guru kita bermental lemah, lemah semuanya.
Kita saat ini makin terjebak dalam penjara pendidikan kita. Karena, pendidikan kita bisa menyamakan isi otak kita. Gaya-gaya orde baru masih ada di sekolah dan pendidikan kita. Hukuman yang tidak mendidik, bahkan kekerasan masih ada sampai sekarang.
Pemikiran kita sama, karena gambaran yang ada dalam perkuliahan di perguruan tinggi baik dari dosen maupun mahasiswanya hanya pandangan sempit. Seperti cepat lulus, dapat skor tinggi, dan dapat pekerjaan dengan bayaran tinggi. Inilah gaya pendidikan kita, logika pendidikan kita sudah berubah dari logika pendidikan menjadi logika untung rugi, maupun logika investasi.
Pendidikan kita tidak pernah mengajarkan bagaimana nilai-nilai kemandirian, bagaimana kita survival hidup di zaman global saat ini, begitulah Sri Sultan Hamengku Buwono mengkritik pendidikan kita. Hal tersebut memang benar adanya,karena pendidikan kita sudah di bawah kendala para pemodal saja.
Lebih parah lagi, nilai-nilai kearifan local sudah terasa hilang dalam pendidikan kita. Buktinya para pejabat yang memiliki pendidikan tinggi masih tega membabat hutan, masih tega korupsi, masih tega melihat rakyat kita sesamanya sakit, teraniaya, dan termarginalkan di negeri yang katanya subur makmur.
Tidak heran kemudian sumber daya kita kebanyakan dikuasai asing, karena pendidikan kita bukan diarahkan pula untuk mengelola alam dan kekayaan kita sendiri, tetapi memenuhi kebutuhan untuk dipekerjakan saja. Sedang yang menjadi top manajemen, top leader adalah bukan orang kita melainkan orang asing.
Berbeda dengan orang tua kita dulu, orang tua kita dulu tidak berpendidikan dalam arti bersekolah. Akan tetapi, mereka belajar semua hal tentang kehidupan, sehingga mereka bisa menjadi orang besar dan tetap tidak meninggalkan nilai-nilai dan kearifan lokalnya.
Maka tidak heran cita-cita “mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum……”hanya menjadi utopia belaka. Entah sampai kapan, kita tidak bisa menjawabnya. Karena system ini sudah terlalu akut, dan terlalu rumit. Hanya dengan perubahan secara radikal, sistematis, secara bersama-sama untuk perubahan dan cita-cita pendidikan kita.
Terakhir kali mungkin kita bisa merenungkan pesan Ki Hajar DEwantara: ” Seorang pemuda yang jualan es cendol, lebih bermartabat daripada seseorang yang menenteng ijazah kemana-mana tanpa dia mau mencoba berkarya sendiri”
Penulis adalah Calon Pendidik, belajar di Universitas Muhammadiyah Surakarta

Bookmark and Share

No comment »

“SepeRcik KejahaTan NeoLiberalisme”

Sepercik Tentang Kejahatan Neoliberalisme
Oleh Arif saifudin Yudistira

Secara bahasa arti dari neoliberalisme adalah sebuah faham yang berorientasi pada kebebasan gaya baru. Para ekonom neo-Liberal di tahun 1970-an berhasil menembus dominasi ilmu ekonomi. Di tahun 1974, Hayek dianugerahi Nobel Ekonomi. Sesudahnya Friedman mendapat Nobel Ekonomi di tahun 1976. Juga Maurice Allais, seorang anggota Mont-Pelerin Society, mendapat Nobel Ekonomi di tahun 1988. Sejak tahun 1970-an, neo-Liberal mulai berkibar. Sejak itu pulalah seluruh paradigma ekonomi secara perlahan masuk ke dalam cara berpikir neo-Liberal, termasuk ke dalam badan-badan multilateral, Bank Dunia, IMF dan GATT (kemudian menjadi WTO).
Secara prinsipil, neoliberalisme mengandung beberapa pengertian : Tiga poin dasar neo-Liberal dalam multilateral ini adalah: pasar bebas dalam barang dan jasa; perputaran modal yang bebas; dan kebebasan investasi. Ciri lain dari neoliberalisme antara lain: Kekayaan terpusat pada sekelompok, orang maupun sindikat bisnis raksasa, Mati dan lumpuhnya fungsi negara dalam layanan public, privatisasi atas semua sektor layanan publik (pendidikan dan kesehatan) Semua kekuatan kritis menghamba pada rezim pasar (media, intelektual dan gerakan sosial)
Hal ini seperti yang berawal di inggris seorang thatcher juga menggunakan privatisasi untuk memperlemah kekuatan Serikat Buruh. Dengan privatisasi atas sektor publik, maka Thatcher sekaligus memperlemah Serikat-Serikat Buruh di BUMN yang merupakan terkuat di Inggeris. Dari tahun 1979 sampai 1994, maka jumlah pekerja dikurangi dari 7 juta orang menjadi 5 juta orang (pengurangan sebesar 29%).
Kaum mafia Berkeley UI yang dulu neo-klasik, kini juga berpindah paham menjadi neo-liberal. Sekarang ini praktis kredo neo-liberal telah dipeluk oleh para menteri ekonomi saat ini. Menko perekonomian Aburizal Bakri, selain pengusaha besar juga punya Freedom Institute, lembaga pengibar paham neo-liberalisme. Menteri-menterinya juga satu paham dengan IMF, Bank Dunia dan ADB.
Praktek di Indonesia
Melihat Konteks indonesia, indonesia sudah ”menghamba ” pada neoliberalisme ini. Kita bisa melihat ini dari salah satu ciri dari neoliberalisme yaitu perputaran modal yang bebas, kita bisa melihat ini pada konsep MLM ( multi level marketing) tidak banyak orang Islam yang kemudian terjebak pada sistem ini karena dengan harapan akan membawa perubahan pada ekonomi pada dirinya.,padahal Nabi mengajarkan bahwa untuk menguasai perekonomian dengan berdagang bukan dengan mengakumulasi modal.
Kedua,  Mati dan lumpuhnya fungsi negara dalam layanan public, privatisasi atas semua sektor layanan publik (pendidikan dan kesehatan). Hampir semua yang ada dalam kebutuhan sehari-hari kita dikuasai oleh neo-liberalisme ini, karena hanya konglomerat asinglah yang berhak menentukan kebijakan harga. Misal : harga fanta naik Rp.500 maka kita hanya bisa mengikuti saja.

Ketiga, selain dengan privatisasi,permainan modal, mereka juga mengubah mainstream orang indonesia. Semisal, cantik itu harus putih, kemudian Air harus beli, tanah boleh dijual/ diprivatkan, dan lain-lain. Lembaga yang begitu menonjol gencar memasukkan ideologi neo-liberalisme misalnya pada freedom institute milik abu rizal bakrie, dan Andi mallarangeng. Strategi neoliberalisme antara lain dengan :
1.    Ber-iklan sebesar-besarnya (omset telkomsel:RP 14,593 triliun/september 2005 dengan belanja iklan Rp 272 milliar (2005)/ PT Unilever omset Rp 3,9 triliun/belanja iklan Rp 256 milliar
2.    Melakukan penarikan konsumsi sebesar-besarnya melalui proyek hypermarket (Carrefour bisa meraih omset Rp 1 milliar/hari terutama pada akhir pekan dan hari libur)
3.    Mengembangkan layanan sosial untuk masyarakat (total kekayaan 600 ribu oranf kaya di Indonesia: Rp 600 triliun diperkirakan Rp 3-6 triliun (5-10%)
4.    Melakukan diskriminasi pelayanan terhadap semua sektor publik (pendidikan dan kesehatan)
Itulah yang dilakukan neo liberalisme pada negara ini, hal tersebut juga ada di lingkungan kota Solo. Misalnya adanya pembangunan center point, paragon, dan mall-mall di Solo. Yang merupakan ciri mendasar yangbisa kita lihat adalah berubahnya keinginan-keinginan manusia menjadi kebutuhan manusia.
1.    Terakhir, ada beberapa strategi untuk melawan neoliberalisme tersebut antara lain : Melakukan pendidikan kritis dan kampanye tentang ekonomi pasar dan peta kekuatan modal
2.    Mendorong lahirnya organ sosial yang memiliki basis sosial yang prural dan tuntutan politik yang hetrogen
3.    Melakukan aksi pada isu-isu spesifik tentang penolakan proyek mercu suar (Pusat Perbelanjaan maupun Pendidikan mahal)
4.Melakukan tuntutan akan kembalinya fungsi negara sebagai penyedia layanan publik yang murah sekaligus bermutu.
Sebagai penutup, yakinlah bahwa kita perlu bersama-sama melawan neoliberalisme ini, musuh kita satu, yaitu neoliberalisme ini.

Bookmark and Share

No comment »

” Fenomena pemakaian Bahasa Indonesia “

Fenomena Penggunaan Bahasa Indonesia
Oleh Arif Saifudin Yudistira*

Membaca fenomena penggunaan bahasa saat ini sungguh sangat memprihatinkan. Bahasa Indonesia yang diperjuangkan menjadi bahasa nasional kita oleh para pahlawan bangsa kita, menjadi tiada berarti saat ini. Hal ini disebabkan  karena telah dirusak dan dikotori oleh para generasi muda sendiri.
Melalui bahasa gaul, bahasa pop, bahasa gado-gado dan bahasa iklan para generasi kita begitu cepat melupakan dan meninggalkan apa yang menjadi bahasa Indonesia. Generasi muda kita begitu cepat terkena pengaruh bahasa-bahasa yang “unik” di telinga mereka. Tanpa peduli itu bahasa baku atau tidak, mereka menggunakan itu dalam keseharian mereka.
Karena sudah menjadi kebiasaan yang mengasyikkan itulah, seakan-akan mereka lebih ”wuaah” jika menggunakan bahasa-bahasa diatas daripada menggunakan bahasa indonesia yang baik dan benar. Akibatnya mereka tidak bisa memperhatikan juga yang mana bahasa yang sesuai dengan EYD dan aturan baku bahasa Indonesia. Kita bisa melihat seperti kata-kata : “so what gitu looooh”, ”emang gue pikirin”, ”mamamia lezatos” dan lain-lain.
Gitu, gue, loe, terasa sudah menjadi bahasa yang fasih diucapkan oleh anak-anak muda kita. Tidak heran ketika bahasa mencerminkan sifat dalam diri seseorang. Jika dilihat dalam konteks bangsa indonesia kita tahu saat ini bangsa kita sudah tidak lagi dikenal sebagai bangsa yang ramah. Hal itu bisa kita ketahui salah satunya melalui bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari kita.
Peranan media memang sangat besar dalam mempengaruhi dan membentuk pola komunikasi dalam berbahasa dalam kehidupan sehari-hari kita. Saat ini pun media terutama  televisi hampir tidak ada yang memperhatikan mengenai efek penggunaan bahasa iklan, bahasa sinetron, dan lain-lain yang bisa mengikis bahasa nasional kita.
Kita bisa melihat dalam setiap penampilan tokoh lawak yang banyak menggunakan bahasa seenaknya saja seperti dalam tayangan ”empat mata”, ”ekstravaganza” dan ”tawa sutra”. Memang dari kaca mata seni kita bisa mentolerir namun dalam sisi penghargaan dan eksistensi bahasa indonesia hal tersebut perlu diperhatikan.
Tidak hanya media, terkadang kesadaran para pemimpin dan tokoh-tokoh kita juga amat kurang. Seperti kita lihat dari apa yang dikatakan Gus Dur: ”Gitu aja kok repot”. Para pemimpin kita jarang yang memperhatikan efek yang begitu besar yang kemudian digunakan anak muda menjadi kebiasaan dalam berkomunikasi.
Menjaga eksistensi bahasa indonesia sebagai bahasa nasional adalah tanggung jawab semua fihak. Oleh karena itu, kita harus sadar bahwa secara tidak langsung kita sudah dijajah bahasa kita melalui media iklan maupun film-film yang menggunakan bahasa-bahasa yang cenderung mengalir. Kemudian diikuti dengan ketidakpedulian kita terhadap efek yang ditimbulkan yang mengikis dan semakin mengaburkan ciri dari bahasa Indonesia itu sendiri sebagai bahasa nasional.

Penulis adalah Aktivis Kabid LITBANG FIGUR Universitas Muhammadiyah Surakarta(2007/2008)

Bookmark and Share

No comment »